Minggu, 17 Februari 2013

Peluang Bisnis Dari Sehatnya Beras Organik


Meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pola hidup sehat turut pula berimbas pada sektor pertanian. Hal ini dapat dilihat dengan makin berkembangnya teknologi pertanian organik. Misalnya pada permintaan beras organik yang terus mengalami kenaikan sampai saat ini dan menjadikan peluang untuk komoditas ini di pasar masih cukup menjanjikan.

Agribisnis Ganesha (ABG) salah satunya yang mencoba membidik peluang komoditas pertanian organk tersebut. Perusahaan yang berlokasi di Bandung ini bergerak di bidang pertanian organik dengan teknik System of Rice Intensification (SRI). Saat ini ABG berkonsentrasi sebagai produsen dan trader beras organik (organic rice), beberapa varietas padi lokal yang dipasarkan, antaralain beras merah, pandan wangi, ciherang, beras merah putih, beras hitam dan lain-lain.

Bustanul Mulyawan selaku Direktur Utama Agribisnis Ganesha menceritakan ide awalnya menekuni bisnis beras oraganik ini bermula dari seorang temannya yang mengajak untuk mengembangkan jiwa entrepreneur dan sekaligus berkontribusi kepada masyarakat. Maka, dipilihlah usaha di sektor pertanian. "Setelah studi literatur dan banyak interaksi dengan tokoh-tokoh pertanian. Dipilihlah pertanian System of Rice Intensification Organic. Selain kualitas produk bagus, juga ramah lingkungan, produktifitas tinggi, dan hemat air," jelasnya kepada HC awal bulan lalu.


Kemudian keseriusannya dalam menekuni bisnis beras organik ini juga lantaran yakin pada prospek bisnis ini akan menjadi peluang usaha besar kedepannya. "Semua manusia makan beras, even orang bule sekalipun. Sedangkan kesehatan merupakan isu utamanya dan beras organik adalah jawabannya," ungkap Bustanul. Diprediksi pasar beras organik di Indonesia senilai 28 miliar rupiah dengan pertumbuhan 22 persen per tahunnya. Volume produksi beras organik meningkat dari 1.180 ton pada tahun 2001 menjadi 11.000 ton pada tahun 2004.

Untuk tahun ke depan dipastikan bisnis makanan organik akan terus bergerak ke arah positif. Kecenderungan gaya hidup sehat masyarakat akan mendongkrak penjualan makan organik. Selain itu jika banyak petani yang mulai bertanam beras secara organik, tentu bisa menurunkan harga produk-produk organik. Menurut data pun menunjukkan jumlah kelompok petani yang menanam beras organik di Indonesia pada tahun 2001 sebanyak 640 kelompok dan pada tahun 2004 naik menjadi 1.700 kelompok.

Meski prospektif, bukan berarti bisnis makanan organik ini tanpa hambatan. Menurut Bustanul kendalanya selama ini dalam bisnis makanan organik ini adalah mengenai pemasaran. Belum banyak yang memasarkan karena sebagian masyarakat masih sedikit yang mengenal produk makanan organik dan masih mahalnya harga makanan organik tersebut. Maka kata Bustanul, diperlukan keberanian dan jaringan kerja (networking) yang kuat. "Networking adalah kunci utamanya," tegasnya.

Bustanul pun mengungkapkan pertama kali memulai bisnis beras organik ini dengan mengeluarkan modal sebesar Rp 35 juta. Modal yang besar itu tidak ada artinya, dengan niat pengorbanan bersama ketiga rekannya untuk membangun sektor pertanian Indonesia menjadi lebih inovatif dan kompetitif baik di dalam maupun di luar negeri. Memang dibutuhkan modal yang besar untuk berbisnis makanan organik. Seiring meningkatnya gaya hidup sehat masyarakat, tentu bisnis makanan organik akan berbuah manis. "Untuk On farming, butuh dua kali musim tanam bisa langsung BEP plus laba, jika panen berhasil. Untuk trading, bisa lebih cepat," ujarnya menjelaskan betapa cepatnya mendapat keuntungan dari bisnis beras organik ini.

Maka, diperlukan strategi untuk memenangi pasar di bisnis makanan organik ini, Bustanul mengungkapkan kualitas adalah segalanya. "Karena pasar menengah atas sampai saat ini yang terdidik. Kemudian sertifikasi dari lembaga untuk meyakinkan konsumen. Kemudian pemasaran dengan memanfaatkan semua jaringan yang ada," tuturnya. Tantangannya adalah perbaikan kualitas secara berkesinambungan, dari produk hingga kemasan. Menyinggung potensi pasar beras organik di luar negeri, memperlihatkan fakta yang cukup prospektif. Di Singapura misalnya, lebih dari 50 ribu konsumen di negara itu membelanjakan lima juta dolar Amerika Serikat (AS) untuk membeli produk organik, segar maupun olahan. Gross National Product (GNP) Singapura mencapai 95,5 miliar dolar Amerika Serikat. Usaha padi organik memiliki prospek pasar yang baik, dan secara teknis produksi mudah dilaksanakan dan banyak lahan yang cocok untuk diusahakan guna menanam. Budidaya padi organik ini dapat dikembangkan serta layak dibiayai perbankan karena sejalan dengan paradigma ramah lingkungan dan layak untuk dikembangkan.

Sistem pertanian organik tidak lepas dari penggunaan pupuk organik dan pestisida organik. Maka ada pendapat, tiga alasan memilih padi organik sebagai kebijakan unggulan. Pertama, untuk melestarikan lingkungan hidup (back to nature), karena padi organik hanya memakai pupuk dan pestisida organik. Kedua, alasan kesehatan (back to healthy): beras organik lebih sehat karena tak memakai pestisida kimia. Terakhir, alasan pasar (market oriented). Segmen beras organik jelas: kalangan menengah ke atas. Harga jualnya pun di atas beras nonorganik.

Pemberdayaan SDM
Pertama kali didirikan dengan nama Agro Olen Sejahtera pada 10 November 2006, yang kemudian berubah menjadi Agribisnis Ganesha (ABG) pada tanggal 31 Oktober 2007. ABG adalah perusahaan yang didirikan oleh tiga orang alumni ITB yang mempunyai visi menuju Indonesia sehat dan sejahtera. Ketiga orang pendiri itu adalah Bustanul Mulyawan, Febriyandi Wahyu Kumolo dan Nurhadi Sukma Waluyo.

Sementara upayanya memberdayakan SDM berkualitas di Agribisnis Ganesha yang saat ini berjumlah lima orang, Bustanul menjelaskan masing-masing orang harus menjadi guru yang bisa membagi ilmu, pengalaman dan pengetahuan kepada yang lainnya. Sehingga tingkat pengetahuan dan kemampuan masing-masing pekerja bisa dilakukan dengan tepat. "Kemudian direksi bertemu dan berkonsultasi atau mentoring dengan orang-orang yang lebih pengalaman dan lebih senior tentang dunia bisnis," ucapnya.

Struktur organisasi di Agribisnis Ganesha dibagi menjadi dua, Pertama, yakni unit on farm, artinya bahwa Agribisnis Ganesha mempunyai lahan sendiri dan lahan dari mitra kelompok tani untuk memproduksi beras organik (organic rice) dengan metode System of Rice Intencification (SRI). Kegiatan ini berada di sawah (farm) untuk proses produksi, quality control, pengeringan, dan penggilingan, sampai menjadi produk beras organik (organic rice). 

0 komentar:

Posting Komentar